LintasMalang mencatat Pemerintah Kota Malang masih menyelidiki penyebab air Sungai Brantas Malang berubah ungu di kawasan Mergosono, Kecamatan Kedungkandang.
Perubahan warna dilaporkan pada 27 September 2026.
Dinas Lingkungan Hidup Kota Malang kemudian melakukan pemeriksaan lapangan dan mengambil sampel air sehari setelah laporan diterima.
Hingga keterangan resmi berikutnya, penyebab perubahan warna belum dapat dipastikan.
Air Sungai Brantas Malang Berubah Ungu
Petugas menerima informasi mengenai perubahan warna sungai pada Minggu sore.
Tim DLH kemudian mendatangi lokasi pada Senin pagi.
Menurut ANTARA, kondisi air sudah kembali normal ketika petugas tiba.
Meski begitu, sampel tetap diambil untuk pemeriksaan laboratorium.
Langkah tersebut dilakukan untuk mengetahui apakah terdapat zat tertentu yang dapat menjelaskan kejadian sebelumnya.
Perubahan warna yang hanya berlangsung sementara membuat penyelidikan menjadi lebih sulit.
Petugas perlu menggabungkan hasil laboratorium dengan informasi waktu kejadian dan kondisi lapangan.
Hasil Laboratorium Jadi Penentu
Pelaksana tugas Kepala DLH Kota Malang Gamaliel Raymond Hatigoran mengatakan proses pemeriksaan membutuhkan sekitar 14 hari.
Artinya, hasil baru dapat diketahui setelah laboratorium menyelesaikan pengujian.
Selama hasil tersebut belum tersedia, pemerintah belum dapat menyebut jenis zat yang menyebabkan warna air berubah.
DLH juga belum menentukan apakah kejadian berasal dari kegiatan industri, usaha kecil, atau sumber lain.
Pemerintah menyatakan penelusuran terhadap sumber pembuangan akan dilakukan apabila hasil uji menunjukkan adanya zat yang berbahaya.
Langkah berikutnya dapat melibatkan koordinasi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Timur.
Hal tersebut penting karena pengawasan lingkungan dapat melibatkan kewenangan lintas instansi.
Warna Air Saja Tidak Cukup untuk Menentukan Pencemaran
Perubahan warna memang dapat menjadi tanda awal masalah kualitas air.
Namun, warna saja belum cukup untuk menentukan jenis zat dan tingkat bahayanya.
Air sungai memiliki karakter yang dinamis.
Arus, hujan, limbah domestik, sedimentasi, dan aktivitas lain dapat memengaruhi tampilan air.
Karena itu, pemeriksaan laboratorium diperlukan.
Parameter kimia dan fisik dapat membantu memberikan gambaran yang lebih objektif.
Hasil tersebut juga dapat digunakan untuk menentukan apakah kondisi air melampaui baku mutu.
Sampel Harus Dibaca Sesuai Waktu dan Lokasi
Sungai terus mengalir sehingga kandungan air dapat berubah dalam waktu singkat.
Zat yang masuk pada satu titik dapat mengalami pengenceran.
Konsentrasinya juga dapat berubah ketika bercampur dengan aliran dari bagian lain.
Karena itu, satu hasil sampel tidak selalu menggambarkan kondisi sungai sepanjang hari.
Petugas perlu melihat lokasi pengambilan, waktu, dan kondisi saat pemeriksaan.
Jika diperlukan, pengambilan sampel tambahan dapat dilakukan.
Pendekatan semacam ini membantu menghindari kesimpulan yang terlalu cepat.
Kejadian Serupa Pernah Terjadi
DLH Kota Malang menyebut kasus perubahan warna air pernah terjadi sebelumnya.
Salah satu kejadian berlangsung di kawasan Bareng.
Pada saat itu, pemeriksaan mengarah pada aktivitas pencucian wadah bekas cat.
Air hasil pencucian dibuang ke saluran dan kemudian masuk ke sungai.
Namun, kejadian di Mergosono tidak dapat langsung dianggap memiliki penyebab yang sama.
Setiap kasus perlu diperiksa berdasarkan bukti masing-masing.
Lokasi, jenis cairan, waktu kejadian, serta kondisi aliran dapat berbeda.
Kesamaan warna tidak cukup untuk menentukan sumber.
Pengelolaan Limbah Cair Perlu Diperhatikan
Peristiwa ini kembali mengingatkan pentingnya pengelolaan limbah cair.
Rumah tangga, usaha, dan industri memiliki tanggung jawab untuk mencegah pembuangan bahan berbahaya ke sungai.
Saluran air juga perlu diawasi karena dapat menjadi jalur masuk cairan dari berbagai kegiatan.
Pembuangan yang hanya berlangsung sebentar pun dapat memengaruhi kualitas air.
Ketika petugas datang beberapa jam kemudian, kondisi visual mungkin sudah berubah.
Karena itu, laporan masyarakat berperan penting.
Warga dapat mencatat waktu kejadian, lokasi, warna, maupun perubahan bau.
Foto atau video juga dapat membantu sebagai dokumentasi awal.
Warga Sebaiknya Tidak Menyentuh Air yang Tidak Normal
Selama penyebab belum diketahui, masyarakat sebaiknya berhati-hati ketika menemukan air dengan warna atau bau tidak biasa.
Kontak langsung sebaiknya dihindari bila belum ada informasi mengenai kandungannya.
Air tersebut juga sebaiknya tidak digunakan untuk kebutuhan yang berpotensi menyebabkan paparan.
Jika perubahan kembali terjadi, masyarakat dapat melaporkannya kepada dinas terkait.
Laporan cepat dapat membantu petugas mengambil sampel sebelum kondisi berubah.
Menunggu Hasil Uji
Tahap berikutnya bergantung pada hasil laboratorium.
Jika tidak ditemukan kandungan berbahaya, pemerintah dapat mengevaluasi faktor lain yang menyebabkan perubahan warna.
Sebaliknya, apabila ditemukan zat yang melebihi baku mutu, penelusuran sumber dapat diperluas.
DLH juga dapat melakukan pemeriksaan tambahan terhadap saluran atau aktivitas di sekitar kawasan.
Bagi masyarakat, hasil tersebut penting untuk memberikan kepastian.
Kasus air Sungai Brantas berubah ungu menunjukkan bahwa perubahan lingkungan perlu ditangani berdasarkan data.
Respons cepat tetap penting, tetapi kesimpulan harus menunggu bukti.
