LintasMalang menyoroti persoalan tuberkulosis yang masih menjadi salah satu tantangan kesehatan terbesar Indonesia. Pemerintah memperkirakan terdapat sekitar 1,09 juta kasus TBC pada 2025, tetapi baru sekitar 867 ribu atau 80 persen yang berhasil ditemukan. Artinya, lebih dari 220 ribu orang dengan TBC berpotensi belum mengetahui kondisinya atau belum masuk ke sistem pelayanan kesehatan.
Kesenjangan tersebut menjadi persoalan serius karena TBC menular melalui udara. Seseorang yang belum mendapat diagnosis dan pengobatan dapat terus menularkan bakteri kepada keluarga, teman kerja, atau orang lain yang sering berada dalam ruangan yang sama.
Indonesia Masih Menanggung Beban TBC Sangat Besar
WHO sebelumnya memperkirakan insiden TBC Indonesia mencapai 387 kasus per 100 ribu penduduk pada 2023, setara sekitar 1,09 juta kasus. Jumlah kematian pada tahun tersebut mencapai 130.927 orang, naik dibanding sekitar 104 ribu pada 2015.
Angka itu memperlihatkan persoalan TBC Indonesia belum bergerak turun secepat yang dibutuhkan.
Indonesia juga masih menempati posisi kedua dunia dalam jumlah kasus TBC setelah India, menurut keterangan terbaru Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Octavianus pada 11 September 2026.
Kondisi ini terasa semakin ironis karena TBC merupakan penyakit yang dapat dicegah dan disembuhkan. Tantangan terbesar justru muncul ketika pasien terlambat mengetahui penyakitnya atau tidak menyelesaikan pengobatan.
Sekitar 223 Ribu Kasus Belum Masuk Sistem
Data terbaru Kementerian Kesehatan menunjukkan pemerintah menemukan sekitar 867 ribu kasus dari estimasi 1,09 juta kasus sepanjang 2025.
Selisihnya mencapai sekitar 223 ribu orang. Pemerintah kini menargetkan tingkat penemuan kasus naik dari 80 persen menjadi 90 persen pada 2026.
Masalah kasus yang hilang ini penting karena gejala TBC tidak selalu membuat seseorang langsung mencari pengobatan. Batuk berkepanjangan, berat badan turun, demam ringan, mudah lelah, atau berkeringat pada malam hari kadang dianggap sebagai penyakit biasa.
Sebagian pasien juga menghadapi hambatan biaya perjalanan, stigma, jarak fasilitas kesehatan, atau kekhawatiran kehilangan penghasilan ketika harus menjalani pemeriksaan.
Akibatnya, rantai penularan dapat berlangsung lebih lama sebelum petugas kesehatan menemukan sumbernya.
Pemerintah Mulai Mengejar Pasien secara Aktif
Strategi penanggulangan TBC kini bergeser. Pemerintah tidak hanya menunggu pasien datang ke fasilitas kesehatan, tetapi memperluas active case finding atau pencarian kasus secara aktif.
Kemenkes mengintegrasikan skrining TBC dengan program Cek Kesehatan Gratis. Pemerintah juga memperluas penggunaan rontgen dada di kelompok dengan risiko lebih tinggi.
Pesantren dan permukiman padat menjadi salah satu sasaran karena interaksi erat dalam ruangan dapat meningkatkan peluang penularan. Kemenkes pada Agustus memperluas skrining menggunakan rontgen dada berbasis teknologi kecerdasan buatan pada lokasi tersebut.
Langkah ini masuk akal karena semakin cepat seseorang menerima diagnosis, semakin cepat pula pengobatan dapat dimulai.
Kontak Serumah Menjadi Sasaran Utama
Strategi lain menyasar keluarga pasien.
Kemenkes ingin petugas melacak seluruh kontak erat penderita TBC, terutama anggota keluarga yang tinggal serumah. Pemerintah bahkan mengubah pendekatan dengan mendorong pelacakan hingga 100 persen kontak erat.
Orang yang tinggal bersama penderita memiliki risiko paparan lebih besar karena mereka berbagi ruang dalam waktu lama.
Mereka yang belum sakit tetapi memiliki risiko tinggi juga dapat memperoleh terapi pencegahan TBC sesuai penilaian tenaga kesehatan.
Namun, capaian terapi pencegahan belum merata. Data 2025 menunjukkan Banten mencapai 61 persen, Jawa Timur 46 persen, dan Jawa Tengah 28 persen. Papua Pegunungan tercatat belum mencapai satu persen, sementara Aceh dan Sulawesi Utara masing-masing sekitar satu persen.
Kesenjangan tersebut memperlihatkan bahwa kemampuan menemukan dan melindungi kontak pasien masih sangat berbeda antarwilayah.
Puskesmas Akan Mendapat Lebih Banyak X-Ray
Keterbatasan alat diagnostik menjadi tantangan besar, terutama di daerah kepulauan dan wilayah yang sulit dijangkau.
Kemenkes kini memperluas ketersediaan mesin X-ray pada puskesmas. Pemerintah sudah menyalurkan bantuan ke 18 provinsi prioritas dan berencana menambah perangkat secara bertahap.
Kepulauan Riau menjadi contoh nyata persoalan tersebut. Dari estimasi sekitar 13 ribu kasus TBC, daerah itu baru menemukan sekitar 7.000 kasus.
Menariknya, 95 persen pasien yang sudah ditemukan di Kepri berhasil menyelesaikan pengobatan. Masalah utama justru terletak pada orang yang belum terdeteksi.
Situasi itu memperlihatkan bahwa ketersediaan obat saja tidak cukup. Sistem kesehatan perlu menemukan pasien sebelum penyakit menyebar lebih jauh.
WHO Ingatkan Target 2030 Masih Berat
Pertemuan WHO Asia Tenggara pada 9 September 2026 kembali menempatkan tuberkulosis sebagai agenda utama kawasan.
Negara anggota sepakat mempercepat diagnosis, memperluas pencegahan, meningkatkan pengobatan TBC resistan obat, dan mempersiapkan kemungkinan hadirnya vaksin TBC baru.
Wilayah Asia Tenggara menanggung sekitar 3,68 juta kasus baru pada 2024 atau sekitar 34 persen kasus global. Sekitar 433 ribu kematian juga terjadi di kawasan tersebut.
Melalui laporan WHO, organisasi itu memperingatkan kemajuan saat ini belum cukup untuk mengejar target End TB 2030. Hampir 44 persen rumah tangga terdampak TBC di kawasan Asia Tenggara juga menghadapi biaya kesehatan yang tergolong katastropik.
Jadi, persoalan TBC bukan sekadar urusan paru-paru. Penyakit ini dapat memukul kondisi ekonomi keluarga ketika pasien harus berhenti bekerja atau menjalani pengobatan dalam waktu panjang.
Gizi, Rokok, dan Diabetes Ikut Memengaruhi Risiko
Kajian WHO terhadap program TBC Indonesia menunjukkan penanganan juga perlu menyentuh faktor di luar pelayanan kesehatan.
Kurang gizi, kebiasaan merokok, diabetes, dan konsumsi alkohol termasuk faktor yang dapat meningkatkan kerentanan terhadap TBC atau memperburuk hasil pengobatan.
Karena itu, eliminasi TBC membutuhkan pendekatan yang lebih luas daripada memberikan obat kepada pasien.
Perbaikan gizi, pengendalian rokok, pengelolaan diabetes, kondisi rumah dengan ventilasi baik, serta edukasi masyarakat ikut menentukan keberhasilan pengendalian penyakit.
Stigma juga harus berkurang. TBC bukan penyakit yang muncul karena seseorang “kotor” atau memiliki gaya hidup tertentu. Siapa pun dapat terinfeksi ketika terpapar bakteri dalam kondisi yang memungkinkan penularan.
Gejala Lama Jangan Lagi Dianggap Batuk Biasa
Masyarakat memiliki peran penting dalam menutup kesenjangan kasus yang belum ditemukan.
Batuk yang berlangsung lama, berat badan turun tanpa sebab jelas, demam berkepanjangan, keringat malam, atau tubuh terus merasa lemah layak mendapat pemeriksaan medis.
Orang yang tinggal serumah dengan pasien TBC juga sebaiknya mengikuti skrining meski belum merasakan keluhan.
Pengobatan TBC membutuhkan kedisiplinan karena terapi berlangsung dalam waktu panjang. Pasien tidak sebaiknya menghentikan obat hanya karena gejala sudah membaik. Penghentian terapi tanpa arahan tenaga kesehatan dapat meningkatkan risiko penyakit kembali serta munculnya resistansi obat.
Lebih dari 220 ribu kasus yang diperkirakan belum terdeteksi menunjukkan masalah terbesar Indonesia bukan hanya menyembuhkan TBC, tetapi menemukan orang yang sakit sebelum mereka terus menularkannya.
Target eliminasi 2030 kini tinggal beberapa tahun. Keberhasilannya akan sangat bergantung pada seberapa cepat Indonesia memperluas skrining, menelusuri kontak erat, memastikan pasien menuntaskan pengobatan, serta membawa layanan diagnostik lebih dekat ke masyarakat.
