LintasMalang mencatat Universitas Negeri Malang mulai memperkuat strategi literasi kecerdasan artifisial melalui pembahasan program Gemini Academy bersama REFO Indonesia. Kolaborasi tersebut diarahkan kepada dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa agar pemanfaatan AI di lingkungan kampus tidak berhenti pada kemampuan membuat perintah atau menghasilkan teks, tetapi juga mencakup etika, keamanan data, integritas akademik, dan kemampuan memeriksa kebenaran hasil yang diberikan sistem.
Pertemuan berlangsung di Graha Rektorat UM pada Senin, 21 September 2026.
Jajaran pimpinan universitas dan REFO Indonesia membahas skema pelatihan yang dapat memperluas kompetensi AI kepada sivitas akademika dalam skala besar.
Pembahasan ini melanjutkan komunikasi yang sudah dilakukan sejak Mei dan Juni 2026.
Fokus utamanya bukan menjadikan AI sebagai pengganti proses akademik, tetapi mempersiapkan pengguna agar memahami kemampuan sekaligus keterbatasannya.
Gemini Academy Memakai Sistem Pengimbasan
Salah satu pendekatan yang dibahas adalah Training of Trainers atau ToT.
Melalui mekanisme tersebut, peserta yang sudah mendapat pelatihan tidak berhenti sebagai pengguna individual.
Dosen dapat berperan sebagai Gemini Academy Fellow dan meneruskan pemahaman kepada mahasiswa di kelas.
Mahasiswa juga dapat menjadi Master Trainer untuk membantu mahasiswa lain memahami penggunaan teknologi tersebut.
Skema pengimbasan memungkinkan pelatihan menjangkau lebih banyak orang tanpa seluruh peserta harus belajar dari satu kelompok pelatih pusat.
Melalui program UM dan REFO, universitas juga menempatkan penggunaan AI secara aman dan bertanggung jawab sebagai bagian utama pembahasan.
Hal ini penting karena adopsi teknologi di kampus bergerak sangat cepat.
Mahasiswa sudah dapat menggunakan AI untuk mencari ide, meringkas dokumen, menerjemahkan teks, menyusun kode, atau membantu memahami materi.
Dosen menghadapi tantangan berbeda karena harus menentukan cara memasukkan teknologi tersebut ke dalam pembelajaran tanpa menghilangkan tujuan pendidikan.
Integritas Akademik Jadi Perhatian
Kemampuan AI menghasilkan tulisan yang terlihat meyakinkan menimbulkan tantangan terhadap tugas kuliah.
Mahasiswa bisa memperoleh jawaban panjang hanya dalam hitungan detik. Namun, hasil tersebut tidak selalu benar dan tidak otomatis mencerminkan pemahaman pengguna.
Karena itu, UM memasukkan integritas akademik sebagai salah satu isu yang perlu dibahas.
Penggunaan AI secara bertanggung jawab berarti mahasiswa harus memahami kapan bantuan teknologi diperbolehkan, bagaimana mencantumkan penggunaannya apabila diperlukan, dan bagian mana yang tetap harus dikerjakan melalui analisis pribadi.
Aturan dapat berbeda antarprogram studi maupun jenis tugas.
Tugas latihan bahasa memiliki kebutuhan berbeda dengan penelitian, karya ilmiah, pemrograman, atau ujian.
Kampus perlu memberikan panduan yang cukup spesifik agar mahasiswa tidak hanya menerima larangan umum yang sulit diterapkan.
Jawaban AI Tetap Bisa Salah
Masalah lain adalah hallucination.
Istilah ini mengacu pada kondisi ketika sistem AI memberikan informasi yang terlihat masuk akal tetapi sebenarnya salah, tidak didukung sumber, atau bahkan menciptakan detail yang tidak pernah ada.
UM secara khusus memasukkan persoalan tersebut ke dalam agenda literasi.
Risikonya cukup besar dalam lingkungan akademik.
Mahasiswa dapat memperoleh nama buku yang tidak pernah diterbitkan, angka statistik yang salah, kutipan yang tidak ada, atau penjelasan ilmiah yang mencampurkan beberapa konsep.
Karena itu, kemampuan menggunakan AI harus berjalan bersama kemampuan memverifikasi.
Sumber primer, jurnal, buku, dokumen resmi, dan data penelitian tetap mempunyai posisi penting.
AI dapat membantu proses awal, tetapi pengguna tetap bertanggung jawab terhadap informasi yang akhirnya dipakai.
Keamanan Data Tidak Boleh Dilupakan
Kemudahan memasukkan dokumen ke dalam layanan AI juga membawa persoalan privasi.
Pengguna dapat tergoda mengunggah data penelitian, dokumen internal, informasi responden, atau materi yang sebenarnya tidak boleh dibagikan ke layanan eksternal.
Kampus perlu membangun kebiasaan memeriksa jenis data sebelum mengunggahnya.
Informasi pribadi, data riset sensitif, dokumen yang terikat perjanjian kerahasiaan, maupun materi milik pihak lain tidak dapat diperlakukan seperti teks publik.
Literasi AI akhirnya bukan hanya kemampuan menulis prompt.
Pemahaman mengenai keamanan informasi menjadi bagian dari kompetensi yang sama pentingnya.
Bias Sistem Juga Perlu Dipahami
AI belajar dari kumpulan data dalam jumlah besar.
Data tersebut tidak selalu mewakili seluruh kelompok masyarakat dengan proporsi atau konteks yang seimbang.
Akibatnya, jawaban yang dihasilkan dapat membawa bias tertentu.
Dalam penelitian atau tugas akademik, pengguna perlu mampu mengenali kemungkinan tersebut.
Jawaban AI tidak seharusnya dijadikan satu-satunya dasar untuk membuat kesimpulan mengenai masyarakat, budaya, kesehatan, kebijakan, maupun bidang lain yang membutuhkan konteks kuat.
Berpikir kritis menjadi kemampuan yang justru semakin penting ketika AI semakin mudah digunakan.
REFO Sebut Ribuan Pendidik Sudah Tersertifikasi
Dalam pembahasan bersama UM, REFO Indonesia menyampaikan bahwa hingga 2026 sekitar 14.000 pendidik telah memperoleh sertifikasi melalui program yang mereka jalankan.
Angka tersebut berasal dari keterangan REFO yang dimuat oleh Universitas Negeri Malang dan menggambarkan skala program pengembangan kompetensi yang sudah dilakukan.
Pengalaman itu kemudian ingin diperluas melalui Gemini Academy.
Namun, jumlah peserta bukan satu-satunya ukuran keberhasilan.
Dampak yang lebih penting adalah apakah dosen dan mahasiswa benar-benar mampu menggunakan AI secara lebih kritis setelah pelatihan.
AI Bisa Membantu Riset dan Pembelajaran
Pada waktu yang berdekatan, UM juga menjalankan agenda pemanfaatan AI untuk teaching and research.
Teknologi dapat membantu dosen membuat variasi bahan ajar, menyusun pertanyaan awal, mengeksplorasi struktur pembelajaran, maupun mempercepat pekerjaan administratif tertentu.
Peneliti dapat memanfaatkannya untuk membantu memahami struktur dokumen, membuat kode sederhana, atau memetakan ide awal.
Tetapi penggunaan tersebut tetap membutuhkan kontrol manusia.
Hasil penelitian tidak bisa dianggap valid hanya karena sebuah sistem AI memberikan jawaban yang terdengar ilmiah.
Metode, data, analisis, dan proses verifikasi tetap harus memenuhi standar akademik.
Tantangannya Bukan Lagi Melarang AI
Kehadiran AI generatif membuat perguruan tinggi menghadapi situasi baru.
Teknologi sudah digunakan oleh mahasiswa sebelum kampus selesai menyusun seluruh aturan.
Melarang secara menyeluruh tidak otomatis membuat penggunaan berhenti. Sebaliknya, membebaskan tanpa panduan dapat menimbulkan masalah integritas serta keamanan.
Pendekatan literasi menjadi jalan tengah yang lebih praktis.
Pengguna belajar memahami kapan AI membantu, kapan hasilnya harus diperiksa lebih ketat, dan kapan teknologi sebaiknya tidak digunakan sama sekali.
Program Gemini Academy yang sedang dibahas UM berada dalam kerangka tersebut.
Tahap berikutnya adalah memastikan skema pelatihan dapat diterapkan secara konsisten di berbagai fakultas.
Jika berhasil, manfaatnya bukan sekadar membuat sivitas akademika lebih mahir menggunakan sebuah aplikasi.
Tujuan yang lebih penting adalah membangun kebiasaan menggunakan AI tanpa meninggalkan kemampuan berpikir, memeriksa sumber, melindungi data, dan mempertanggungjawabkan pekerjaan akademik sendiri.
