LintasMalang mencatat pemerintah meminta perguruan tinggi tidak berhenti menghasilkan penelitian energi yang hanya tersimpan di laboratorium. Melalui Energy Week 2026 yang berlangsung 22–24 September di Jakarta, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi bersama BRIN mendorong kampus, lembaga riset, pemerintah, dan industri mempercepat teknologi yang dapat benar-benar digunakan untuk memperkuat ketahanan energi nasional.
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto menyebut energi sebagai salah satu fondasi penting pembangunan setelah ketahanan pangan.
Tantangan yang disorot adalah ketergantungan terhadap impor sejumlah komoditas energi seperti bensin, solar, dan LPG.
Brian memperkirakan nilainya berada di kisaran 40 miliar dolar AS. Angka tersebut merupakan estimasi yang disampaikan menteri dalam forum, sehingga perlu dibaca sebagai gambaran skala persoalan, bukan statistik perdagangan final.
Riset Harus Keluar dari Laboratorium
Indonesia sebenarnya mempunyai banyak penelitian di bidang energi.
Masalahnya, hasil riset tidak selalu mencapai tahap produksi komersial.
Sebuah teknologi dapat berhasil sebagai prototipe tetapi belum tentu mudah diproduksi dalam jumlah besar.
Biaya dapat terlalu tinggi, suku cadang sulit diperoleh, standar belum tersedia, atau belum ada perusahaan yang bersedia mengambil risiko investasi.
Energy Week mencoba mempertemukan masalah tersebut.
BRIN ingin laboratorium terhubung lebih dekat dengan industri sehingga peneliti dapat memahami kebutuhan nyata pasar.
Industri di sisi lain dapat melihat teknologi yang sudah cukup matang untuk diuji dalam skala lebih besar.
Pembahasan mengenai hilirisasi riset energi menempatkan komersialisasi sebagai salah satu ukuran penting keberhasilan.
Motor Bensin Menjadi Salah Satu Sasaran
Salah satu gagasan yang mendapat perhatian adalah konversi sepeda motor bensin menjadi kendaraan listrik.
Jumlah sepeda motor di Indonesia sangat besar sehingga konsumsi bensinnya mempunyai dampak pada kebutuhan energi nasional.
Brian menilai konversi sebagian kendaraan dapat membantu mengurangi ketergantungan impor gasolin.
Namun, konversi massal membutuhkan lebih dari memasang motor listrik dan baterai.
Sistem harus aman, mempunyai standar komponen, mendapat sertifikasi, dan tetap sesuai kebutuhan pengguna.
Harga juga menentukan.
Masyarakat kemungkinan tidak tertarik melakukan konversi apabila biaya terlalu tinggi dibanding manfaat penghematan yang diperoleh.
Jaringan servis dan ketersediaan baterai turut menjadi bagian dari perhitungan.
BRIN Membawa Portofolio Riset yang Luas
Energy Week tidak hanya membahas kendaraan listrik.
BRIN memaparkan penelitian terkait dukungan PLTS skala besar, biofuel E20 dan B50, biomassa, reaktivasi pembangkit panas bumi, serta waste to energy.
Masing-masing teknologi mempunyai karakter berbeda.
Energi surya membutuhkan lahan, panel, sistem jaringan, dan penyimpanan ketika produksi tidak sesuai waktu konsumsi.
Biofuel membutuhkan pasokan bahan baku yang berkelanjutan.
Panas bumi menawarkan produksi relatif stabil tetapi membutuhkan eksplorasi dan investasi awal besar.
Sementara pemanfaatan sampah menjadi energi harus memastikan sistemnya tidak sekadar memindahkan masalah lingkungan ke bentuk lain.
Tidak ada satu teknologi yang dapat menyelesaikan seluruh kebutuhan energi Indonesia.
Kampus Punya Keunggulan pada Talenta
Peran universitas tidak hanya menghasilkan mesin atau prototipe.
Perguruan tinggi juga menjadi tempat menyiapkan insinyur, peneliti, teknisi, ekonom, dan pembuat kebijakan yang memahami transisi energi.
Transformasi sistem energi membutuhkan tenaga kerja baru.
Teknisi pembangkit surya membutuhkan kompetensi berbeda dari mekanik mesin diesel.
Industri baterai membutuhkan ahli material, kimia, elektronika, perangkat lunak, serta keselamatan.
Kampus dapat memperbarui kurikulum mengikuti perubahan kebutuhan tersebut.
Kolaborasi dengan industri juga memungkinkan mahasiswa melihat masalah aktual sebelum lulus.
Ketahanan Energi Bukan Hanya Soal Energi Terbarukan
Istilah ketahanan energi sering disamakan dengan penggunaan energi hijau.
Padahal, konsepnya lebih luas.
Negara membutuhkan pasokan yang cukup, harga yang terjangkau, sumber yang beragam, dan sistem yang mampu bertahan ketika terjadi gangguan.
Konflik geopolitik dapat mengganggu pasokan minyak dan gas.
Perubahan harga internasional juga dapat meningkatkan biaya subsidi maupun beban pengguna.
Mengembangkan sumber domestik dapat mengurangi sebagian risiko tersebut.
Pada saat bersamaan, teknologi baru harus mampu bersaing secara ekonomi.
Sumber energi yang bersih tetapi sangat mahal akan sulit digunakan luas tanpa dukungan kebijakan.
Industri Menentukan Apakah Teknologi Bisa Membesar
Peneliti dapat menghasilkan desain yang sangat baik.
Tetapi perusahaan mempunyai kemampuan berbeda: produksi massal, distribusi, pemasaran, servis, dan pembiayaan.
Kolaborasi keduanya dibutuhkan.
Industri juga dapat memberi umpan balik sejak tahap awal.
Jika teknologi membutuhkan bahan yang sulit diperoleh atau proses manufaktur yang terlalu rumit, desain dapat diperbaiki sebelum masuk fase komersial.
Model seperti ini mengurangi risiko riset selesai tetapi tidak pernah digunakan.
PLTS 100 GW Butuh Rantai Pasok
BRIN menyebut dukungan terhadap program PLTS 100 gigawatt sebagai salah satu portofolio penelitian.
Target sebesar itu tidak hanya membutuhkan panel surya.
Inverter, kabel, struktur, baterai, sistem kontrol, jaringan transmisi, dan tenaga pemasangan juga diperlukan.
Jika sebagian besar komponen harus diimpor, ketergantungan energi dapat bergeser menjadi ketergantungan teknologi.
Karena itu, riset lokal diarahkan bukan hanya pada sumber energi tetapi juga kemampuan industrinya.
Pertanyaan yang perlu dijawab adalah berapa banyak nilai tambah dapat diproduksi di Indonesia.
Biofuel Perlu Menghindari Konflik Penggunaan Lahan
Pengembangan E20 dan B50 dapat mengurangi konsumsi bahan bakar fosil tertentu.
Namun, peningkatan biofuel juga membutuhkan bahan baku dalam jumlah besar.
Produksi harus mempertimbangkan pangan, kehutanan, serta keberlanjutan lahan.
Teknologi yang terlihat positif dari sisi energi dapat menimbulkan masalah lain apabila ekspansi bahan bakunya tidak dikendalikan.
Penelitian mempunyai peran penting untuk mencari bahan baku lebih efisien dan proses yang menghasilkan energi lebih banyak dengan sumber daya lebih sedikit.
Energy Week Menjadi Tempat Menguji Arah Riset
Kepala BRIN Arif Satria menyebut energi, pangan, dan air sebagai tiga persoalan besar yang harus diselesaikan agar Indonesia dapat bergerak menjadi negara maju.
Energy Week juga melibatkan seminar nasional, kerja sama internasional, kompetisi mahasiswa dan pelajar, serta pertemuan dengan pelaku industri.
Forum semacam ini tidak otomatis menghasilkan teknologi baru dalam tiga hari.
Nilainya berada pada hubungan yang terbentuk setelah kegiatan.
Peneliti membutuhkan mitra untuk melakukan uji skala besar.
Perusahaan membutuhkan teknologi yang sudah cukup matang.
Pemerintah mempunyai peran menciptakan standar dan kebijakan yang memberi kepastian.
Jika ketiganya bergerak sendiri-sendiri, riset berisiko berhenti sebagai prototipe.
Ketahanan energi akhirnya bukan hanya persoalan menemukan sumber baru. Tantangan yang lebih besar adalah membuat teknologi tersebut mampu keluar dari laboratorium, diproduksi secara ekonomis, dan dipakai masyarakat dalam skala yang benar-benar mengurangi ketergantungan Indonesia pada energi impor.














